Jumat, 07 Oktober 2016

Yang Tak Terlupakan

sepi.....
sunyi.......
dimalam yang seindah ini,
aku duduk terdiam
memandang eloknya kota
dari bingkai jendela kamar ini
ditemani secangkir coklat panas

angin malam mulai merasuki tubuh
tetes demi tetes air mengalir
keluar dari pelupuk ini, melewati pipi
dan terjatuh secara perlahan....
seakan mata berbicara
bahwa ia sudah tak sanggup lagi,
tak kuasa menahan rasa sakit yang terlalu lama terpendam

hujan diluar mulai terdengar rintih
membawaku kembali ke masa itu
dimana kita pertama kali dipertemukan

senyum....
kali pertama pertemuan kita,
kamu tersenyum kepadaku
kita belum mengenal satu sama lain
tapi karena senyumanmulah itu,
menarikku kedalam beribu pertanyaan
aku ingin tau lebih banyak tentangmu

hari demi hari berlalu.....
sudah sejauh ini aku melangkah,
sudah sedekat ini aku bersamamu
berbagi canda dan tawa
mengukir semua kenangan indah
berdua bersamamu

karena kamu, aku mulai belajar banyak
aku mulai mengenal kembali rasa itu,
disaat aku tak ingin merasakannya lagi
semakin hari, semakin bertambah
semakin dalam rasa yang kupunya
aku tak ingin kehilanganmu.....

tapi perlahan,
kamu berubah
menjauh dari diri ini,
menghilang dari kehidupan ini,
seakan kamu lenyap dimakan bumi
tanpa sadar bahwa kamu telah meninggalkan banyak kenangan,
hingga menyisakan segores luka
yang membekas di hati.....

petir menyambar
membuyar lamunanku
air mata ini enggan untuk berhenti mengalir
bahkan seulas senyum dibibir,
yang sedaritadi kupertahankan,
akhirnya pudar...
aku menangis.....
menangis sejadi-jadinya......

hujan mulai berderu lebih deras
mengalahkan suara tangis ini
menjadi pertanda,
akan rindu yang kupunya untukmu


-Iz
(inspirasi: curahan hati sahabat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar