Sabtu, 27 Juni 2015

"Kau masih menyukainya?" 
"Kau tahu bagaimana menyukai seseorang begitu lama tanpa mendapatkan balasan? Aku tak berpikir apapun, tetapi hanya memikirkan tentang betapa menyedihkannya hidupku ini. Sebenarnya memang terlihat sederhana, tapi rasa sakitnyalah yang membuatnya tak sesederhana itu. Harus menahan diri untuk tak memikirkannya. Harus membuang rasa rindu yang setiap saat membelenggu. Harus menahan rasa api cemburu, saat kita tak mempunyai hak apapun. Harus memendam perasaan itu dan berharap ia terhapus dengan seiringnya waktu. Tidak! Bukan cuman itu saja. Tetapi juga harus mengikhlaskan jika dia memang terlahir hanya untuk kita kagumi dan hanya sebatas mencintai tanpa perlu memilikinya. Harus memunafikkan diri mengatakan jika tak lagi menyukainya, namun mata dan semua organ terus meneriaki namanya. Harus berpura-pura membencinya, berusaha melupakannya saat cinta itu semakin terasa ada. Dan harus menahan banyak hal lagi. Huh, itu yang selama itu kuperbuat. Menyedihkan. Dan sampai detik ini pun, luka itu tak dapat kusembunyikan dengan mudah. Cinta itu mengajarkanku bahwa ada hal yang kita inginkan, tapi tak harus kita miliki. Memaksakan diri untuk menghapus sesuatu yang bahkan tercipta untuk tak dihapuskan, benar-benar sulit. Tetapi tak hanya rasa sakit itu. Aku juga harus sadar jika pernah tertawa dan begitu senang karena tumbuhnya rasa cinta ini. Rasa sakit dan bahagia yang tak akan dapat aku lupakan. Semua rasa itu kelak akan menjadi cerita tersendiri dalam kehidupan tuaku. Aku tak boleh bersedih kan? 
Sampai sekarang aku masih menunggu keajaiban bahwa dia akan datang menemuiku. Tetapi, itu semua rasanya mustahil. Aku..........aku merindukannya."

-Lee Hiu Hwi
Buku: Hey, Bad Boy Je T'aime!