Senin, 31 Mei 2021

ANOMALI WAKTU

Surya yang setia menampakkan warna hangatnya,
rembulan yang setia menghembuskan cerita damainya
Satu temu berujung pada satu tuju
hingga seutas titik harap, beradu pilu
Ruang waktu terus menjelajah tanpa lelah,
melangkah tanpa arah


Akankah sinar impian terpancar nyata, 
ataukah pudar dalam lentera semesta?
- Iz


Rabu, 11 Juli 2018

Ingat kan saya tuan

ingatkan saya tuan,
hasrat untuk menjadi
hasrat ingin memiliki
bukankah tidak boleh meninggi?

ingatkan saya tuan,

panggilan semesta yang kian mengangkasakan
panggilan samudra yang kian menenggelamkan
bukankah harus tetap terabaikan?

ingatkan saya tuan, 

setiap debaran yang semakin menggema
setiap bayangan yang semakin menyapa
bukankah semua euforia semata?

ingatkan saya tuan,

lengkungan manis yang tercipta
gerak gerik manis yang terbaca
bukankah yang terindah hanyalah diriNya?

dan ingatkan saya tuan,

jika langit sudah membelah asanya
jika laut sudah membuka batasnya
bukankah keharusan untuk kembali memelukNya?


-Iz

Sabtu, 04 November 2017

hai, kamu! iya, kamu. 

tahukah kamu bahwa hati ini tak pernah berhenti berdetak karenamu? 

tahukah kamu bahwa bibir ini tak pernah berhenti menyerukan namamu? 
tahukah kamu bahwa mata ini tak pernah berhenti mencari keberadaanmu? 
dan tahukah kamu bahwa seluruh tubuhku ini bahkan hanya memikirkan tentangmu?

aku menyukaimu. sangat menyukaimu.

entah kamu pernah menyadarinya, 
entah kamu pernah merasakannya, 
atau entah kamu pernah melihatnya.

hanya satu inginku untuk kau ketahui.
aku menyukaimu dan merindukanmu.
sampai detik ini, sampai saat ini.


-Iz
(inspirasi: Melodi)

Jumat, 07 Oktober 2016

Yang Tak Terlupakan

sepi.....
sunyi.......
dimalam yang seindah ini,
aku duduk terdiam
memandang eloknya kota
dari bingkai jendela kamar ini
ditemani secangkir coklat panas

angin malam mulai merasuki tubuh
tetes demi tetes air mengalir
keluar dari pelupuk ini, melewati pipi
dan terjatuh secara perlahan....
seakan mata berbicara
bahwa ia sudah tak sanggup lagi,
tak kuasa menahan rasa sakit yang terlalu lama terpendam

hujan diluar mulai terdengar rintih
membawaku kembali ke masa itu
dimana kita pertama kali dipertemukan

senyum....
kali pertama pertemuan kita,
kamu tersenyum kepadaku
kita belum mengenal satu sama lain
tapi karena senyumanmulah itu,
menarikku kedalam beribu pertanyaan
aku ingin tau lebih banyak tentangmu

hari demi hari berlalu.....
sudah sejauh ini aku melangkah,
sudah sedekat ini aku bersamamu
berbagi canda dan tawa
mengukir semua kenangan indah
berdua bersamamu

karena kamu, aku mulai belajar banyak
aku mulai mengenal kembali rasa itu,
disaat aku tak ingin merasakannya lagi
semakin hari, semakin bertambah
semakin dalam rasa yang kupunya
aku tak ingin kehilanganmu.....

tapi perlahan,
kamu berubah
menjauh dari diri ini,
menghilang dari kehidupan ini,
seakan kamu lenyap dimakan bumi
tanpa sadar bahwa kamu telah meninggalkan banyak kenangan,
hingga menyisakan segores luka
yang membekas di hati.....

petir menyambar
membuyar lamunanku
air mata ini enggan untuk berhenti mengalir
bahkan seulas senyum dibibir,
yang sedaritadi kupertahankan,
akhirnya pudar...
aku menangis.....
menangis sejadi-jadinya......

hujan mulai berderu lebih deras
mengalahkan suara tangis ini
menjadi pertanda,
akan rindu yang kupunya untukmu


-Iz
(inspirasi: curahan hati sahabat)

Sabtu, 27 Juni 2015

"Kau masih menyukainya?" 
"Kau tahu bagaimana menyukai seseorang begitu lama tanpa mendapatkan balasan? Aku tak berpikir apapun, tetapi hanya memikirkan tentang betapa menyedihkannya hidupku ini. Sebenarnya memang terlihat sederhana, tapi rasa sakitnyalah yang membuatnya tak sesederhana itu. Harus menahan diri untuk tak memikirkannya. Harus membuang rasa rindu yang setiap saat membelenggu. Harus menahan rasa api cemburu, saat kita tak mempunyai hak apapun. Harus memendam perasaan itu dan berharap ia terhapus dengan seiringnya waktu. Tidak! Bukan cuman itu saja. Tetapi juga harus mengikhlaskan jika dia memang terlahir hanya untuk kita kagumi dan hanya sebatas mencintai tanpa perlu memilikinya. Harus memunafikkan diri mengatakan jika tak lagi menyukainya, namun mata dan semua organ terus meneriaki namanya. Harus berpura-pura membencinya, berusaha melupakannya saat cinta itu semakin terasa ada. Dan harus menahan banyak hal lagi. Huh, itu yang selama itu kuperbuat. Menyedihkan. Dan sampai detik ini pun, luka itu tak dapat kusembunyikan dengan mudah. Cinta itu mengajarkanku bahwa ada hal yang kita inginkan, tapi tak harus kita miliki. Memaksakan diri untuk menghapus sesuatu yang bahkan tercipta untuk tak dihapuskan, benar-benar sulit. Tetapi tak hanya rasa sakit itu. Aku juga harus sadar jika pernah tertawa dan begitu senang karena tumbuhnya rasa cinta ini. Rasa sakit dan bahagia yang tak akan dapat aku lupakan. Semua rasa itu kelak akan menjadi cerita tersendiri dalam kehidupan tuaku. Aku tak boleh bersedih kan? 
Sampai sekarang aku masih menunggu keajaiban bahwa dia akan datang menemuiku. Tetapi, itu semua rasanya mustahil. Aku..........aku merindukannya."

-Lee Hiu Hwi
Buku: Hey, Bad Boy Je T'aime!